Keunikan Hutan Rawa

Keunikan Hutan Rawa

Saya yakin banyak kawan-kawan diluar sana yang juga hidup dan tinggal di sekitar hutan rawa seperti saya. Namun mungkin tidak semua menceritakannya seperti yang saya lakukan. Meksi tidak seseru jejak petualang, atau bocah petualang maupun mata angin. Pengalaman saya semasa kecil mungkin bisa berguna bagi anda dan dapat menjadi pelajaran ataupun sekedar pengetahuan.

Tapi saya gambarkan sedikit karakteristik hutan rawa tempat berpetualang semasa kecil. Daerah saya adalah daerah rawa yang di dominasi oleh kayu Galam (Malaleuca cajuputi). Di dasar hutan hampir sepanjang tahun tergenang air, dan hampir dimana-mana terdapat rumput ” purun kudung ” atau Eleocharis dulcis dan kelakai. Di tempat-tempat yang tidak tergenang bisanya banyak di tumbuhi karamunting, ataupun rumput dari genus Cyperus dan masih ada beberapa tumbuhan lain yang umumnya sudah beradaptasi dengan lingkungan yang asam.

Selain flora, ada juga faunanya misalnya berbagai jenis reptil seperti ular, kura-kura, biawak, berbagai jenis burung dan beberapa jenis ikan rawa misalnya seperti ikan betok atau papuyu, sepat dan ikan gabus atau haruan. Nah tentu saja aktifitas petualangan saya masih berhubungan dengan hewan maupun tumbuh-tumbuhan yang ada di sana.

Karena cukup banyak panjang jika saya tulis semuanya, maka saya akan tulis artikel ini secara seri atau bersambung. Cerita yang nanti akan tulis adalah perjalanan semasa kecil, cerita ini sekaligus untuk mengingatkan akan keunikan hutan rawa yang harus diperhatikan. Hutan rawa yang kian terancam sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab kita untuk menjaganya.

Inilah cerita pertama saya, tapi mohon sebelumnya untuk tidak menertwakan saya karena kemampuan olah kata saya sangat pas-pasan.

Keseharian saya sewaktu kecil bisa di bilang sangat ”wong deso”, di bangku sekolah SD permainan yang saya lakukan hanya terbatas main kelereng, main gelang karet, main kapal-kapalan yang di buat dai pelepah rumbia ataupun pergi memancing bersama teman-teman. Menjelang musim kemarau, kami biasanya pergi mencari sumur-sumur kecil ataupun cekungan-cekungan yang dulu banyak ikannya, jika beruntung kami akan menemukan sumur-sumur dangkal yang banyak ikannya. Dengan berbagai teknik dan cara, setiap orang berusaha mencoba menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Istilah di desa kami kegiatan seperti ini banyak sebutannya, ada yang menyebutnya ”begalau” adapula yang menyebutnya ”bekacal”. Pada intinya kegiatan ini adalah memanfaatkan air surut sewaktu menjelang kemarau baik di hutan maupun di sawah tadah hujan. Dengan surutnya air, ikan-ikan akan terkumpul dan terkonsentrasi di daerah yang lebih rendah misalnya sumur, atau cekungan yang dalam istilah kami disebut ”lubakan”.

Dalam kelompok kecil 3 sampai 4 orang kami menuju daerah yang akan di jelajahi, mencari lubakan atau sumur yang kira-kira ada ikannya. Jika ketemu maka dengan sebilah parang kami singkirkan-rumput-seperlunya dan kedua tangan siap beraksi mencari ikan di dalam air yang berlumpur. Tak jarang yang kami dapat bukannya ikan melainkan ular air atau ular tanah. Jika sudah begitu semuanya melompat keluar dari air karena kaget. Setelah beberapa menit kemudian bisanya ada diantara kawan-kawan yang berani ”bekacal” lagi dan semua kembali masuk ke sumur untuk menangkap ikan.

Dalam ”bekacal” kami biasanya tidak menggunakan alat bantu melainkan hanya menggunakan tangan kosong. Perolehan ikan pun tidak menentu, tergantung dari keahlian dan banyak ikan yang ada di sumur atau ”lubakan” tersebut. Kadang kami bisa membawa masing-masing lebih setengah ember dengan ukuran sedang, tapi pernah juga pulang hanya dapat seekor dua ekor. Gengsilah sebenarnya yang menjadi taruhan bagi yang sedikit mendapatkan ikan, namun meski begitu kami tetap sportif.

Ikan yang paling mudah ditangkap adalah jenis ikan sepat dan kapar, sedangkan yang sulit adalah ikan papuyu (betok) dan ikan haruan (ikan gabus). Ikan papuyu selain bisa bertahn dilumpur juga memliki duri sirip yang tajam sehingga susah di tangkap, sedangkan ikan haruan memiliki tubuh licin dan hentakan kuat saat di genggam.

Sayangnya kegiatan semacam itu sekarang sudah langka ditemui, padahal kegitan semacam itu memiliki nilai positif karena mengajarkan pemanfaatan sumber daya alam secara bijak dan bersahabat. Imbas perkembangan dunia modern telah merubah pola pikir masyarakat menjadi pola pikir instan, mereka lebih suka mencari ikan dengan menggunakan setrum (arus listrik) ataupun potas (racun ikan). Akibatnya populasi ikan di rawa-rawa kini jauh merosot dari beberapa tahun sebelumnya.

Simak cerita saya berikutnya bagaimana menangkap burung rawa dengan menggunakan jerat.

Jika menurut anda artikel ini bermanfaat silahkan share ke teman-teman facebook anda !
Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar