Membaca Tanda Alam

Peka Tanda Alam
============================================
BannerFans.com ImageChef Custom Images
============================================
Masih membicarakan tentang survival, di kesempatan kali ini saya mau berbagi kisah semasa kecil. Tinggal di pedesaan ternyata memberikan pengalaman yang unik yang sepertinya tidak di temukan bagi mereka yang tinggal di perkotaan. Kisah ini sebuah gambaran bagi saya sendiri mengenai survival.

Cerita ini bermula saat saya masih duduk di bangku SD, seperti yang telah di tulis dan dikisahkan pada tulisan sebelumnya, keseharian waktu di masa kecil saya di habiskan cukup banyak bermain di hutan rawa. Dan paling senang saat mulai kemarau, banyak aktifitas yang hanya asyik dilakukan saat musim hujan misalnya bermain ”hide and seek” atau petak umpet di sela-sela purun, bermain bola di lapangan yang hanya bisa ditemukan saat musim kemarau (lapangan dadakan), mencari sarang burung, Bekacal atau mengejar layang-layang putus.

Siang itu saya sehabis pulang sekolah berganti pakaian, makan dan pergi ke tempat kami biasa ngumpul. Biasanya ada beberapa teman saya yang bermain kelereng atau sekedar ngobrol-ngobrol. Dengan berjalan kaki kurang lebih 15 menit tibalah di tempat yang di maksud. Hari ini hanya ada satu dua teman yang ngumpul, dengan ngobrol sebentar akhirnya saya memutuskan pulang. Ditengah perjalanan tanpa sengaja ada sesuatu yang melayang di atas langit, di ombang-ambingkan oleh angin yang bertiup cukup kencang.

Tanpa sadar, kaki yang tadinya berjalan kini sudah berlari, berlari mengejar benda melayang yang tidak lain adalah layang-layang yang putus entah milik siapa. Tubuh serasa tak terkendali, semua halangan dilewati dengan mudahnya, parit-parit yang menganga tanpa ragu dapat dilewatid dengan mudah, ranting-ranting pohon yang rimbun tak dipedulikan, singkat kata keadaan saya seperti orang kesetanan.

Tak sadar sudah berapa lama dan berapa jauh saya masuk kedalam hutan. Karena memang saat itu yang namanya jam tangan belum akrab dalam kehidupan saya. Akhirnya saya berhenti, mencoba mengamati daerah sekitar dan sesekali menengok keatas mencoba mencari dimana layang-layang itu jatuh. Kaki sudah mulai terasa lelah, sudah coba tengok kiri dan tengok kanan, benar-benar tempat yang asing. Kini mendadak perasaan berubah, yang tadinya menggebu-gebu perlahan barganti dengan resah dan khawatir. Otak saya sudah mulai berfungsi, sadar betul bahwa tempat yang saya datangi ini hampir tidak pernah di datangi orang baik untuk mencari kayu bakar, mencari biawak, atau ular sawa.

Sebenarnya saya cukup yakin kalau saya baru memasuki hutan tidak lebih dari 3 kilometer. Namun karena sepanjang jakan hampir saya habiskan dengan menatap ke langit akhirnya saya mulai kebingungan mencari jalan pulang. Sebenarnya yang paling saya khawatirkan adalah kalau-kalau bertemu binatang buas, meski jarang namun tanda-tanda aktifitas babi hutan masih sering di temui. Masih dalam kebingungan saya tetap melangkah, mencoba-mengingat jalan saya datang, tetapi tetap tidak menemukannya. Beruntung saya termasuk anak yang hobi memanjat, didalam kebingungan saya menemukan sebatang pohon Galam yang cukup tinggi, dengan tanpa ragu pohon itu di panjat. Tepat ditengah, mata langsung mengamati sekeliling. Tapi tidak menemukan petunjuk karena tingginya pepohonan disekitar. Saya kumpulkan keberanian untuk memanjat lebih tinggi, hanya beberapa meter mendekati pucuknya. Akhirnya usaha saya memberikan sedikit caha terang, setelah mengamati sekeliling, ternyata di sebelah barat ada jalan raya yang melintas beberpa buah kendaraan bermotor.

Hilang sudah kecemasan yang tadi memuncak, pohon dituruni dengan perlahan dan dengan yakin kaki melangkah kearah barat menuju jalan raya yang tadi terlihat saat di atas pohon. Tepat ke arah matahari yang semakin condong.

Kejadian ini benar-benar menjadi pelajaran berharga buat saya, tak pernah membayangkan jika kejadian itu terjadi ditengah hutan belantara yang jaraknya bermil-mil dari jalan raya atau perkampungan. Entah apa yang akan saya lakukan tanpa bekal yang cukup menghadapi kondisi survival. Apa lagi saat kejadian itu jangankan menguasai teknik survival, membaca saja tidak pernah tentu nasib akan menjadi sebuah tanda tanya.

Di alam bebas kita bisa di celakai oleh apa saja, alam bisa lebih berbahaya dari hewan buas atau bahkan kita celaka karena kecerobohan kita sendiri. Lalu apa yang bisa kita ambil pelajaran dari cerita diatas ? ”Peka Tanda Alam adalah salah satunya. Kita harus peka terhadap tanda-tanda alam yang sekiranya bisa memberikan manfaat dan petunjuk bagi kita jika berada di hutan. Sebagai contoh :

1. Tumbuhan lumut , dapat dipakai sebagai isyarat posisi barat dan timur. Lumut yang tumbuh di pepohonan umumnya lebih lebat yang di sisi barat dari pada lainnya.
2. Tajuk pohon lebih lebat yang sisi bagian barat
3. Jika ada pohon bekas tebangan, maka lingkaran tahunan bekas potongan kayu akan berpola lingkaran tidak sempurna atau elips, yang mana bagian yang mampat adalah arah timur dan barat sedangkan sisi yang melebar adalah utara dan selatan.
4. Beberapa binatang memiliki tingkah laku unik saat menanggapi bahaya, atau memilih makanan yang aman dan tidak
5. Beberapa tumbuhan seperti pandan tumbuh condong kearah timur, menuju arah matahari terbit. Contoh lain adalah bunga matahari.
6. Sarang semut atau serangga lebih banyak di sisi pohon yang mengarah kesebelah barat
7. Akan lebih baik jika mengetahui posisi benda langit misalnya rasi bintang untuk membantu navigasi. Dan banyak lagi yang bisa di jadikan alat bantu untuk menghadapi keadan atau kondisi survival.

Jika menurut anda artikel ini bermanfaat silahkan share ke teman-teman facebook anda !
Share

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan Berkomentar